Picture

JAKARTA - Enam tahun berlalu, tragedi semburan lumpur Sidoarjo belum teratasi. Namun kepedulian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, untuk membantu menangani dampak tragedi tersebut tak pernah surut. Sejak 2008, ITS telah tergabung dalam Tim Kajian Kelayakan Permukiman (KKP) yang dibentuk oleh Gubernur Jawa Timur.

Bahkan, hingga kini tim dari ITS masih terus memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar semburan lumpur untuk antisipasi dampak atau risiko yang ada. ''Sampai saat ini, banyak masyarakat sekitar yang minta konsultasi pada kami bila akan mengambil tindakan terkait dampak semburan lumpur,'' tutur Ketua Pusat Studi Kebumian, Bencana dan Perubahan Iklim LPPM-ITS Amien Widodo, seperti dilansir dari ITS Online, Selasa (5/6/2012).

Sebenarnya, kiprah ITS di Sidoarjo telah dimulai sebelum dibentuknya tim KKP yang lebih dikenal sebagai tim independen tersebut. Bantuan penanganan dampak semburan lumpur secara sukarela telah berlangsung sejak awal terjadinya tragedi, yakni sekira akhir Mei 2006. ''Begitu ada tragedi semburan lumpur itu, kami sudah langsung bergerak. Bantuan yang diberikan oleh ITS berupa penelitian ataupun masukan-masukan untuk antisipasi dampaknya," ungkap dosen Jurusan Teknik Sipil ITS tersebut.

Setelah berjalan selama dua tahun, Gubernur Jawa Timur yang kala itu dijabat Imam Utomo akhirnya membentuk tim KKP. Kelompok ini terdiri dari tim ITS dan Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Dari ITS sendiri, terdapat 10 orang dari berbagai disiplin ilmu. Tim ini diberi tugas untuk melakukan kajian terhadap amblesan tanah, semburan gas, kerusakan aset, pencemaran air, dan kesehatan masyarakat.

Kegiatan lain tim KKP adalah mengadakan seminar ataupun workshop terkait semburan lumpur Sidoarjo. Selain itu, mereka turut melaksanakan berbagai kerjasama di antaranya dengan United Nations Environment Program (UNEP) pada 2006 untuk meneliti kualitas lumpur dan udara sekitar semburan lumpur. Sementara pada 2008, kerjasama ini turut melibatkan Australian Agency for International Development (AusAID) dengan fokus penelitian yang berbeda, yaitu terkait pemilihan penanganan lumpur yang efektif dengan metode emergy (energy memory). Hasil penelitian mereka membuahkan kesimpulan mengenai penanganan lumpur. ''Penanganan yang tepat untuk pembuangan lumpur adalah dengan membuat saluran sendiri untuk jangka waktu lebih dari 10 tahun,'' papar Amien.

Tahun berikutnya, kerjasama dilakukan bersama Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia untuk menetapkan kawasan yang berisiko. Kerjasama berlanjut pada 2010 dalam pembuatan strategi penanggulangan lumpur bersama Bappenas. Semua hasil kajian serta penelitian turut dipublikasi dalam sejumlah jurnal terakreditasi. Amien berharap semua hasil kajian dari timnya tersebut bisa dijadikan referensi oleh pemerintah maupun pihak-pihak terkait dalam menangani dampak semburan lumpur Sidoarjo.

 


Comments




Leave a Reply